Hari Keanekaragaman Hayati Internasional 2026 Jadi Momen Penting Indonesia Perkuat Komitmen Menjaga Kelestatian Lingkungan

DEPOK- Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) menggelar rangkaian kegiatan bertema “Kemajuan Capaian Indonesia dalam Konservasi Keanekaragaman Hayati, Road to CBD 17th COP, Acting Locally for Global Impact” di Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), Depok.

Kegiatan tersebut digelar dalam rangka memperingati Hari Keanekaragaman Hayati Internasional 2026 yang dijadikan momentum bagi pemerintah untuk memperkuat komitmen menjaga kelestarian lingkungan dan kekayaan hayati Indonesia di tengah meningkatnya ancaman kerusakan ekosistem global.

Selain itu, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kesadaran publik terhadap pentingnya perlindungan keanekaragaman hayati sekaligus menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu negara dengan kekayaan biodiversitas terbesar di dunia.

Selain seminar dan diskusi lingkungan, kegiatan juga diisi dengan penanaman pohon di area kampus UIII sebagai simbol gerakan penghijauan dan pemulihan ekosistem.

Peringatan Hari Keanekaragaman Hayati tahun ini turut mendapat dukungan Pemerintah Jerman melalui Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) sebagai bentuk sinergi internasional dalam perlindungan lingkungan global.

Menteri Lingkungan Hidup, Mohammad Jumhur Hidayat mengatakan, Indonesia berada di posisi teratas sebagai negara mega biodiversity jika kekayaan biodiversitas daratan dan laut digabungkan.

Disebutkan bahwa Indonesia memiliki posisi sangat penting dalam upaya menjaga keanekaragaman hayati dunia.

“Harus diingat juga gini ya, ada yang mengatakan kita negara nomor dua biodiversity, ternyata tidak. Kita tuh mega biodiversity dan nomor satu,” katanya, Jum’at (22/5/2026).

Indonesia memiliki beragam keanekaragaman hayati mulai dari ekosistem laut hingga hutan tropis. Jumhur menyebut, Indonesia memiliki legitimasi kuat untuk bersuara dalam agenda perlindungan biodiversitas global.

“Jadi memang kita sangat legitimate, sangat valid, sah kalau kita berteriak keras untuk mempreserve biodiversity di dunia, dan tentunya dimulai juga dari Indonesia,” ujarnya.

Jumhur menegaskan, perlindungan lingkungan tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah semata. Oleh karena itu seluruh elemen masyarakat harus terlibat aktif menjaga ekosistem. Mulai dari kalangan generasi muda, dunia usaha, media, hingga organisasi lingkungan.

“Ini bukan tugas pemerintah saja, tapi tugas semua orang, karena kita hidup di planet yang sama, di bumi yang sama,” tegasnya.

Tema Acting Local for Global Impact disebut menjadi pengingat bahwa langkah kecil di tingkat lokal dapat memberikan dampak besar terhadap keberlanjutan lingkungan global.

Menurutnya, keberadaan komunitas lingkungan dan organisasi non-pemerintah selama ini memiliki peran penting dalam mengawal isu kerusakan alam.

Dikatakan bahwa kritik dan pengawasan dari masyarakat sipil menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan pembangunan dan pelestarian lingkungan.

“Anak-anak muda dan juga NGO-NGO yang selalu kritis, kita hormati. Karena kadang-kadang kita ketika membangun, suka abai atau lupa bagaimana pentingnya memelihara lingkungan dan biodiversity,” ucapnya.

Komunitas dan organisasi lingkungan seperti Pandawara, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), Greenpeace, hingga Yayasan KEHATI sebagai mitra yang memiliki tujuan sama dalam menjaga kelestarian lingkungan.

“Kita tidak berbeda, kita punya tujuan yang sama dan kita saling berkolaborasi, saling mengkritik, saling mengingatkan,” ungkapnya.

Selain memperingati Hari Keanekaragaman Hayati Internasional, kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari pengembangan kawasan hijau di lingkungan UIII.

Pemerintah berencana membangun Taman Keanekaragaman Hayati atau Taman Kehati di area kampus sebagai pusat edukasi dan konservasi lingkungan. Diharapkan, UIII dapat berkembang menjadi green campus yang memiliki standar keberlanjutan lingkungan yang terukur.

“Nanti akan ada Taman Kehati di sini, akan kita coba kolaborasi dengan kementerian,” katanya.

Jumhur mengungkapkan pemerintah tengah menyiapkan gerakan nasional penanaman pohon yang akan melibatkan berbagai elemen masyarakat.

Gerakan tersebut nantinya diharapkan melibatkan masyarakat umum, media, komunitas anak muda, hingga generasi Gen Z untuk ikut berpartisipasi menghijaukan kembali kawasan-kawasan kritis di Indonesia.

“Kita akan mengumumkan satu gerakan nasional, gerakan bersama semua pihak lintas untuk menanam pohon di lahan-lahan kritis,” ujarnya.

Gerakan penghijauan juga berpotensi memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat melalui skema carbon credit yang kini mulai berkembang secara global.

“Mudah-mudahan itu juga bisa membawa kebaikan bagi masyarakat lokal dan kita semua. Ini jadi gerakan bersama, gerakan rakyat, gerakan nasional, gerakan Gen-Z, gerakan media, semua gerakan, tujuannya menghijaukan kembali Indonesia,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *