Trump, FIFA, Kartu Merah Balogun dan Kemenangan Telak Belgia Membungkam Amerika

DEPOK24JAM– Sepakbola punya cara yang kejam untuk menertawakan orang-orang yang merasa bisa mengaturnya.

Senin malam di Seattle, di hadapan puluhan ribu pendukungnya sendiri, Amerika belajar bahwa turnamen ini tidak bisa dimenangkan lewat sambungan telepon. Segala kuasa dikerahkan demi meloloskan satu pemain ke lapangan, dan sepakbola menjawabnya dengan empat gol tanpa ampun.

Skor 1-4 itu bukan sekadar kekalahan. Itu adalah surat balasan resmi dari semesta, ditandatangani oleh kaki Charles De Ketelaere, ditujukan kepada siapa pun yang mengira kartu merah bisa dihapus dari Oval Office.

Mari kita rekap drama sinetron berjudul “Balogun-Gate”.

Folarin Balogun menerima kartu merah di laga melawan Bosnia-Herzegovina, memicu skorsing otomatis satu pertandingan. Dalam dunia normal, urusan selesai.

Tapi ini Amerika di era Trump.

Trump mengaku meminta FIFA melakukan review, sambil dalam napas yang sama mengklaim “tidak ada hubungannya dengan keputusan itu”. Klasik. Seperti orang yang menyiram bensin lalu heran kenapa ada api.

Yang lebih lucu, Trump mengaku awalnya tidak tahu apa itu kartu merah dan apa konsekuensinya. Bayangkan: orang yang tidak tahu kartu merah itu apa, berhasil membuat FIFA membekukan hukumannya.

Sementara Infantino, dengan wajah paling polos sedunia, merilis pernyataan bahwa badan yudisial FIFA itu independen dan dia selalu menjunjung prinsip tersebut.

Independen.

Tentu saja. Sama independennya dengan anak magang yang bosnya menelepon HRD.

Reaksi dunia?

UEFA menyebut keputusan itu “melewati garis merah” dan menyatakan ketidakpercayaan atas keputusan yang belum pernah terjadi, tidak dapat dipahami, dan tidak dapat dibenarkan.

Bahkan Sepp Blatter, ya, Sepp Blatter yang itu, orang yang jatuh karena skandal korupsi, merasa perlu memberi kuliah etika:

“Kartu merah tidak dibatalkan oleh telepon politik.”

Ketika Blatter jadi suara moral sepakbola, kita tahu situasinya sudah separah apa.

Lalu apa yang terjadi di lapangan Seattle?

Puisi.

De Ketelaere mencetak brace di babak pertama, Vanaken dan Lukaku menuntaskannya di babak kedua.

Balogun yang diperjuangkan sampai level Oval Office itu?

Nyaris tak terlihat.

Bahkan dengan kekuatan penuh, Belgia menang dengan mudah. Amerika membakar kredibilitas turnamen demi satu striker, dan striker itu tidak mencetak gol.

Kalau ini bukan definisi sia-sia, saya tidak tahu apa lagi.

Belgia sendiri bermain seperti tim yang tersinggung.

Dan memang mereka tersinggung.

Federasi Belgia mengajukan banding, ditolak hakim FIFA kurang dari delapan jam sebelum kickoff.

Jadi mereka membalas dengan cara paling elegan: menghajar 4-1, lalu akun resmi Red Devils mencuit, “Overturn this.”

Sarkasme level federasi.

Chef’s kiss.

Pelajarannya sederhana.

Kekuasaan bisa membekukan kartu merah, tapi tidak bisa membekukan Matt Freese yang keluar kotak penalti seperti turis tersesat. Tidak bisa membeli pressing Vanaken di menit ke-93.

Sepakbola, untungnya, masih punya satu wasit yang tidak bisa ditelepon: papan skor.

Belgia lolos ke perempat final melawan Spanyol.

Amerika pulang membawa satu gol, satu skandal, dan satu pelajaran: di sepakbola, lobi politik hanya mengantarmu sampai kickoff. Sisanya urusan kaki, bukan koneksi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *