DEPOK24JAM — Buat kamu yang mulai melirik investasi berbasis keberlanjutan, ada data menarik sekaligus bikin mengernyit dari Bursa Efek Indonesia (BEI). Berdasarkan data skor ESG Sustainalytics yang dipublikasikan melalui BEI, dari 156 emiten yang dinilai, daftar 10 emiten dengan skor risiko ESG terburuk nyaris disapu bersih oleh sektor energi, khususnya para pemain batu bara.
Sebelum Lanjut, Kenalan Dulu Sama ESG
ESG adalah singkatan dari Environmental, Social, and Governance, alias lingkungan, sosial, dan tata kelola.
Sederhananya, ini adalah kacamata untuk menilai seberapa bertanggung jawab sebuah perusahaan dalam mengelola dampak lingkungan, memperlakukan karyawan dan masyarakat, serta menjalankan tata kelola yang bersih dan transparan.
Yang perlu dipahami, skor ESG versi Sustainalytics ini adalah skor risiko. Jadi logikanya terbalik, makin rendah skornya makin bagus, karena artinya risiko ESG perusahaan itu kecil.
Sebaliknya, skor tinggi berarti perusahaan memiliki risiko ESG yang serius dan belum terkelola dengan baik.
Regulasinya Bukan Kaleng-kaleng
Di Indonesia, urusan ESG bukan sekadar tren. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sudah menerbitkan POJK Nomor 51/POJK.03/2017 tentang Penerapan Keuangan Berkelanjutan bagi Lembaga Jasa Keuangan, Emiten, dan Perusahaan Publik.
Lewat aturan ini, emiten dan perusahaan publik diwajibkan menerapkan prinsip keuangan berkelanjutan sekaligus menyusun Laporan Keberlanjutan (sustainability report) setiap tahun.
Laporan tersebut memuat kinerja aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. Penerapannya dilakukan secara bertahap, dimulai dari lembaga jasa keuangan beraset besar hingga akhirnya menyeluruh ke semua emiten.
Artinya, transparansi ESG kini sudah masuk ranah kewajiban, bukan lagi sekadar pilihan.
Daftar 10 Emiten dengan Skor ESG Terburuk
Inilah para penghuni “zona merah” dengan skor risiko ESG tertinggi yang didominasi sektor energi dan tambang:
- PT Sumber Global Energy Tbk (SGER) — 57,31
- PT Prima Andalan Mandiri Tbk (MCOL) — 55,89
- PT Alfa Energi Investama Tbk (FIRE) — 54,71
- PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) — 54,64
- PT Harum Energy Tbk (HRUM) — 52,96
- PT Golden Eagle Energy Tbk (SMMT) — 52,64
- PT Bayan Resources Tbk (BYAN) — 52,11
- PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) — 51,33
- PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS) — 50,24
- PT Indika Energy Tbk (INDY) — 49,56
Delapan dari sepuluh nama di atas berasal dari sektor energi, sementara sisanya berasal dari sektor material yang juga bersinggungan dengan aktivitas tambang.
Skor di atas 40 masuk kategori risiko sangat tinggi (severe), yang berarti paparan risiko lingkungan, sosial, dan tata kelola mereka tergolong berat di mata investor global.
Daftar 10 Emiten dengan Skor ESG Terbaik
Di sisi berlawanan, berikut para emiten dengan skor risiko ESG terendah:
- PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) — 7,65
- PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) — 9,47
- PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR) — 11,23
- PT Apollo Global Interactive Tbk (BOGA) — 12,46
- PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) — 13,34
- PT Cita Mineral Investindo Tbk (CITA) — 13,60
- PT Integra Indocabinet Tbk (WOOD) — 14,10
- PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) — 14,95
- PT Itama Ranoraya Tbk (IRRA) — 15,29
- PT MD Entertainment Tbk (FILM) — 15,89
Menariknya, posisi puncak justru diduduki PGEO, yang juga berasal dari sektor energi, tetapi bergerak di bidang panas bumi atau energi terbarukan.
Kontras ini menunjukkan bahwa sesama sektor energi bisa memiliki perbedaan besar dalam pengelolaan risiko ESG.
Jadi, Apa Artinya Buat Investor?
Rata-rata skor ESG dari 156 emiten dalam data ini berada di kisaran 30,66 atau masuk kategori risiko tinggi.
Bagi investor yang memperhatikan aspek keberlanjutan, data ini dapat menjadi salah satu filter awal sebelum memilih saham.
Skor ESG buruk bukan berarti saham tersebut pasti buruk secara kinerja atau keuntungan. Namun, risiko jangka panjang seperti regulasi hijau yang semakin ketat hingga perubahan preferensi investor global tetap perlu diperhitungkan.
Intinya, jangan hanya melihat harga saham dan laba perusahaan. Periksa juga rapor ESG, karena di era keuangan berkelanjutan, perusahaan yang mengabaikan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola berpotensi semakin ditinggalkan pasar.
Sumber data: Skor ESG Sustainalytics melalui Bursa Efek Indonesia (www.idx.co.id)

