DEPOK24JAM – Emiten properti PT Bumi Benowo Sukses Sejahtera Tbk (BBSS) kembali membukukan kerugian sepanjang paruh pertama 2026. Yang lebih menyita perhatian bukan angka ruginya, melainkan betapa kecilnya denyut bisnis perusahaan yang mengempit aset hampir seperempat triliun rupiah ini.
Berdasarkan laporan keuangan per 30 Juni 2026 yang telah disahkan Direksi pada 22 Juli 2026, BBSS hanya mencatat pendapatan Rp303,34 juta selama enam bulan, turun 11,4 persen dari Rp342,22 juta pada periode yang sama tahun lalu. Seluruh pendapatan tersebut berasal dari satu sumber, yakni sewa gudang. Tidak ada satu rupiah pun pendapatan dari penjualan properti.
Bandingkan dengan total aset perusahaan yang mencapai Rp248,95 miliar. Artinya, jika disetahunkan, tingkat perputaran aset BBSS hanya berada di kisaran seperempat persen. Sebuah perusahaan tercatat dengan aset ratusan miliar, tetapi aktivitas operasionalnya masih sangat terbatas.
Rugi Melebar Tipis, Defisit Kian Membengkak
BBSS membukukan rugi periode berjalan sebesar Rp626,91 juta, sedikit lebih dalam dibandingkan rugi Rp622,60 juta pada semester I 2025. Rugi per saham juga tetap berada di level minus Rp0,13.
Sumber tekanan utama berasal dari beban umum dan administrasi yang mencapai Rp856,81 juta, jauh lebih besar dibandingkan laba bruto sebesar Rp265 juta. Dengan kata lain, biaya menjalankan operasional perusahaan masih berkali-kali lipat lebih tinggi dibandingkan keuntungan yang dihasilkan dari kegiatan usahanya.
Meski beban umum dan administrasi turun dari Rp1,01 miliar pada tahun sebelumnya, penurunan tersebut belum cukup untuk membawa perseroan kembali membukukan laba.
Kerugian yang terus berulang juga membuat saldo laba ditahan semakin tergerus. Defisit yang belum ditentukan penggunaannya meningkat dari Rp3,43 miliar pada akhir 2025 menjadi Rp4,06 miliar per akhir Juni 2026.
Bank Tanah Menganggur, Proyek Tahap II Belum Bergerak
Persoalan yang lebih mendasar terlihat pada struktur aset perusahaan. Sebanyak Rp155,97 miliar, atau sekitar 62,7 persen dari total aset BBSS, masih tercatat sebagai Tanah Belum Dikembangkan.
Lahan seluas 67.652 meter persegi di Desa Prambangan, Gresik, tersebut masih memiliki nilai yang sama seperti akhir 2025, menandakan belum adanya perkembangan yang signifikan.
Proyek andalan perusahaan, Pergudangan Bumi Benowo Tahap II, juga belum menunjukkan kemajuan berarti. Nilai bangunan dalam penyelesaian tetap tercatat Rp64,92 miliar dan tidak mengalami perubahan sepanjang semester pertama 2026.
Pos pembangunan konstruksi pada mutasi aset juga tercatat nihil, yang mengindikasikan tidak adanya tambahan pekerjaan fisik selama periode berjalan. Dalam catatan laporan keuangan, manajemen menyatakan tidak terdapat hambatan dalam penyelesaian proyek, meskipun pergerakan aset belum mencerminkan adanya progres pembangunan.
Selain itu, uang muka pembelian tanah senilai Rp9,21 miliar juga masih belum dapat diakui sebagai penambah persediaan real estat karena hingga kini transaksi tersebut belum terealisasi.
Dari sisi operasional, BBSS masih mengandalkan pendapatan dari sebagian kecil unit gudang yang disewakan. Perseroan mencatat masih memiliki 34 unit gudang yang belum terjual. Sebagian unit disewakan kepada PT FCM Crushing Equipment Indonesia, Giri Bayu Kusuma, serta CV Arbilan Jaya Makmurindo.
Jumlah karyawan tetap perusahaan juga relatif kecil, yakni hanya 10 orang.
Nyaris Tanpa Utang, tetapi Kas Terus Menyusut
Salah satu sisi positif laporan keuangan BBSS adalah struktur permodalannya yang relatif sehat. Total liabilitas hanya sebesar Rp3,48 miliar, turun dari Rp3,62 miliar pada akhir 2025, tanpa adanya utang bank berbunga.
Ekuitas perusahaan tetap besar, yakni Rp245,47 miliar. Struktur modal yang kuat ini memberikan ruang bagi perusahaan untuk bertahan, tetapi juga memperlihatkan tantangan utama yang dihadapi, yakni besarnya aset yang belum mampu menghasilkan pendapatan secara optimal.
Arus kas dari aktivitas operasi masih negatif sebesar Rp710,43 juta. Untuk menutup kebutuhan kas operasional, perusahaan memperoleh arus masuk terutama dari penagihan piutang kepada pihak berelasi sebesar Rp675 juta.
Akibatnya, saldo kas dan setara kas turun menjadi Rp547,36 juta pada akhir Juni 2026, dari Rp582,79 juta pada awal tahun.
Piutang kepada pihak berelasi juga menjadi salah satu pos yang patut diperhatikan. BBSS menyalurkan pinjaman kepada PT Graha Makmur Tenteram sebesar Rp1,5 miliar dan PT Bumi Indra Wisesa sebesar Rp1,2 miliar, dengan bunga 4,75 persen per tahun. Kedua pinjaman tersebut telah beberapa kali diperpanjang melalui adendum, dengan jatuh tempo terbaru pada 2027.
Saham Nyaris Tak Likuid
Struktur kepemilikan saham BBSS sangat terkonsentrasi. PT Agung Alam Anugrah menguasai 72,92 persen saham, disusul PT Agung Anugrah Investama sebesar 16,60 persen. Sementara itu, porsi kepemilikan publik hanya sekitar 10,48 persen.
Komposisi tersebut membuat jumlah saham yang beredar di pasar relatif kecil, sehingga likuiditas perdagangan saham dan proses pembentukan harga menjadi lebih terbatas.
Manajemen juga menyatakan tidak menemukan indikasi penurunan nilai atas aset perusahaan. Selain itu, nilai pertanggungan asuransi untuk bangunan gudang dinilai telah memadai.
Meski demikian, laporan keuangan semester I 2026 masih menyisakan pertanyaan yang sama seperti periode-periode sebelumnya, yakni kapan bank tanah senilai ratusan miliar rupiah tersebut mulai dikembangkan menjadi sumber pendapatan, serta bagaimana strategi BBSS untuk keluar dari siklus pendapatan yang minim dan kerugian yang terus berulang.
Selama lahan belum dikembangkan dan proyek Tahap II belum menunjukkan kemajuan, mesin pendapatan perusahaan diperkirakan masih akan bergerak dalam ritme yang terbatas.
Artikel disusun berdasarkan Laporan Keuangan PT Bumi Benowo Sukses Sejahtera Tbk per 30 Juni 2026 (tidak diaudit).

