Bisnis Ayam Masih Sulit, Janu Putra Sejahtera Andalkan Pasar Hotel hingga Program MBG

Direktur PT Janu Putra Sejahtera Tbk memaparkan strategi perusahaan menghadapi tekanan industri perunggasan pada 2026.

DEPOK24JAM – PT Janu Putra Sejahtera Tbk (AYAM) mengakhiri semester I 2026 dengan tantangan yang tidak ringan. Di tengah tekanan industri perunggasan, pendapatan perseroan turun cukup tajam. Namun di balik penurunan tersebut, perusahaan justru berhasil meningkatkan laba melalui efisiensi operasional.

Laporan keuangan per 30 Juni 2026 menunjukkan pendapatan AYAM turun menjadi Rp129,91 miliar, dibandingkan Rp184,30 miliar pada periode yang sama tahun lalu atau merosot sekitar 29,5%.

Meski penjualan melemah, perseroan berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp2,68 miliar, meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan Rp1,16 miliar pada semester I 2025. Peningkatan itu ditopang oleh membaiknya laba bruto yang naik menjadi Rp10,12 miliar dari Rp6,95 miliar pada tahun sebelumnya.

Bagi masyarakat awam, kondisi tersebut dapat diibaratkan seperti sebuah restoran yang menerima pelanggan lebih sedikit dibandingkan tahun lalu, tetapi berhasil menghemat biaya bahan baku dan operasional sehingga keuntungan yang dibawa pulang justru lebih besar.

Di tengah kondisi tersebut, manajemen memilih tidak hanya fokus mengejar pertumbuhan penjualan, tetapi juga memperkuat kualitas bisnis.

Dalam Public Expose Tahunan, Direktur PT Janu Putra Sejahtera Tbk, Fadhl Muhammad Firdaus, mengatakan perseroan telah menyiapkan sejumlah strategi untuk mempercepat pemulihan, mulai dari memperluas pasar business-to-business (B2B), memperkuat segmen Food Service & HORECA, hingga memanfaatkan peluang dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Kami terus memperkuat efisiensi operasional dan memperluas pasar B2B melalui program Janu Meet & Connect (JMC) agar dapat membangun kemitraan yang lebih luas dan berkelanjutan,” kata Fadhl dikutip dari keterbukaan informasi, Selasa, 4 Agustus 2026.

Penjualan Turun, tetapi Margin Keuntungan Mulai Membaik

Sekilas, penurunan pendapatan memang terlihat mengkhawatirkan.

Namun jika dicermati lebih dalam, kualitas keuntungan perusahaan justru mulai membaik.

Perseroan mampu meningkatkan laba bruto menjadi Rp10,12 miliar meski nilai penjualan turun hampir sepertiga dibandingkan tahun lalu. Kondisi ini menunjukkan perusahaan semakin efisien dalam mengelola biaya produksi sehingga setiap rupiah penjualan mampu menghasilkan keuntungan yang lebih besar.

Meski demikian, tantangan belum sepenuhnya berakhir.

Laporan arus kas menunjukkan arus kas dari aktivitas operasi berbalik negatif sebesar Rp8,50 miliar, dibandingkan posisi positif Rp2,36 miliar pada semester I 2025. Artinya, kas yang dihasilkan dari aktivitas usaha sehari-hari masih berada di bawah tekanan.

Di sisi lain, perusahaan berhasil mencatat arus kas investasi positif Rp35,09 miliar, terutama berasal dari penjualan aset non-keuangan. Dana tersebut membantu menjaga likuiditas perusahaan di tengah kondisi operasional yang masih menantang.

Bidik Pasar Horeka dan Korporasi

Menjawab pertanyaan saat public expose mengenai arah bisnis tahun ini, manajemen mengatakan AYAM akan lebih agresif memperluas pasar di luar jalur distribusi tradisional.

Perseroan membidik segmen Food Service & HORECA (hotel, restoran, dan katering), Corporate & Institutional Market, Modern Trade, hingga jaringan distributor sebagai sumber pertumbuhan baru.

Menurutnya, diversifikasi pelanggan menjadi penting agar perusahaan tidak terlalu bergantung pada satu saluran penjualan.

Selain meningkatkan volume penjualan, strategi tersebut juga diharapkan mampu memperbaiki margin keuntungan perusahaan.

Program MBG Dinilai Membuka Peluang Baru

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga menjadi salah satu topik yang banyak ditanyakan dalam Public Expose.

Fadhl menilai program pemerintah tersebut berpotensi meningkatkan konsumsi protein hewani masyarakat, sehingga dapat menjadi peluang baru bagi industri perunggasan.

Namun, menurutnya, AYAM tidak akan terburu-buru mengambil peluang tersebut.

Perseroan masih mempelajari berbagai bentuk kerja sama yang sesuai dengan kapasitas produksi serta mekanisme yang ditetapkan pemerintah.

Selain mengincar peluang dari MBG, perusahaan juga terus memperluas jaringan pemasaran melalui berbagai saluran distribusi agar tidak bergantung pada satu segmen pelanggan saja.

Harga Ayam dan Rupiah Masih Menjadi Tantangan

Meski prospek pasar dinilai masih menjanjikan, Fadhl mengakui industri perunggasan belum sepenuhnya pulih.

Fluktuasi harga live bird atau ayam hidup masih menjadi tantangan terbesar bagi pelaku usaha.

Di samping itu, kenaikan harga bahan baku pakan, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap bahan baku impor, serta persaingan industri yang semakin ketat masih menjadi tekanan bagi kinerja perusahaan.

Karena itu, perseroan memilih fokus pada efisiensi operasional, memperkuat pasar B2B, dan melakukan diversifikasi pelanggan sebagai strategi menghadapi kondisi pasar yang belum stabil.

Jalan Pemulihan Masih Panjang

Strategi yang disampaikan manajemen menunjukkan AYAM tidak sekadar bertahan, tetapi mulai menyiapkan fondasi pertumbuhan baru.

Meski pendapatan masih turun pada semester I 2026, perusahaan berhasil membuktikan bahwa efisiensi mampu mengangkat laba di tengah kondisi pasar yang sulit.

Kini tantangan berikutnya adalah memastikan strategi ekspansi ke pasar B2B, HORECA, dan peluang dari Program Makan Bergizi Gratis benar-benar mampu mendongkrak penjualan sehingga pertumbuhan laba tidak hanya ditopang oleh efisiensi, tetapi juga oleh meningkatnya aktivitas bisnis inti.

BACA JUGA: Alfamart vs Indomaret Semester I 2026: Sama-sama Ramai Pembeli, Siapa yang Lebih Unggul?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *