Homeco Victoria Makmur Kehilangan Momentum, Penjualan Ambruk 42% dan Laba Bersih Terpangkas 88%

Logo Homeco Victoria Makmur (LIVE) dengan ilustrasi penurunan laba Semester I 2026.

DEPOK24JAM – Di tengah ambisinya membangun lima merek unggulan dan menjangkau 50 juta konsumen per tahun pada 2030, PT Homeco Victoria Makmur Tbk (LIVE) justru menghadapi tekanan berat pada semester I 2026. Penjualan perusahaan merosot lebih dari 40%, diikuti laba bersih yang anjlok hampir 88% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Homeco Victoria Makmur atau Homeco Living merupakan perusahaan yang berdiri pada 2012 dan bergerak sebagai pemasar sekaligus pengembang berbagai merek perlengkapan rumah tangga, alat tulis, mainan anak hingga tekstil. Perseroan mengklaim memiliki jaringan distribusi di lebih dari 40.000 titik penjualan di Indonesia serta mengelola anak usaha PT Trisinar Indopratama, produsen produk plastik rumah tangga bermerek Technoplast. Sejak Februari 2023, saham perusahaan resmi diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia dengan kode LIVE.

Namun, besarnya jaringan distribusi tersebut belum mampu menghindarkan perusahaan dari perlambatan bisnis.

Penjualan Terjun Bebas, Laba Bersih Ikut Tergerus

Berdasarkan laporan keuangan per 30 Juni 2026, penjualan Homeco tercatat sebesar Rp90,16 miliar, anjlok 42,04% dibandingkan Rp155,55 miliar pada semester I 2025. Penurunan pendapatan itu membuat laba bruto menyusut menjadi Rp37,49 miliar dari Rp61,54 miliar setahun sebelumnya.

Perseroan memang berhasil memangkas beban umum dan administrasi menjadi Rp29,46 miliar dari Rp40,41 miliar. Beban bunga juga turun menjadi Rp6,61 miliar dari Rp7,99 miliar. Namun efisiensi tersebut tidak mampu mengimbangi penurunan penjualan yang terlalu dalam.

Tekanan terhadap emiten sektor manufaktur sebenarnya juga terlihat pada sejumlah perusahaan lain.

Baca juga: Jantra Grupo Indonesia (KAQI) Balik Untung, tetapi Penjualannya Masih Menyusut pada Semester I 2026.

Akibatnya, laba sebelum pajak tergerus menjadi hanya Rp1,52 miliar, jauh di bawah capaian Rp12,60 miliar pada semester I tahun lalu. Setelah dikurangi beban pajak, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tinggal Rp1,19 miliar, merosot sekitar 87,9% dibandingkan Rp9,83 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Laba per saham dasar ikut turun menjadi Rp0,3 dari sebelumnya Rp2.

Utang Menurun, Arus Kas Justru Membaik

Dari sisi neraca, total aset perseroan turun menjadi Rp516,27 miliar dari Rp526,71 miliar pada akhir 2025. Persediaan berkurang menjadi Rp218,63 miliar dari Rp229,45 miliar, sementara aset tetap turun menjadi Rp88,71 miliar dari Rp91,16 miliar.

Di sisi lain, Homeco berhasil menekan total liabilitas menjadi Rp180,46 miliar dari Rp192,10 miliar pada akhir tahun lalu. Pinjaman bank jangka pendek yang menjadi komponen terbesar juga turun menjadi Rp146,50 miliar dari Rp155,01 miliar. Sementara ekuitas naik tipis menjadi Rp335,80 miliar karena perusahaan masih mencatatkan laba pada enam bulan pertama tahun ini.

Arus kas operasional bahkan menunjukkan perbaikan. Kas bersih dari aktivitas operasi meningkat menjadi Rp6,32 miliar dibandingkan Rp1,90 miliar pada semester I 2025, didukung meningkatnya kas yang dihasilkan dari operasi serta turunnya pembayaran bunga dan belanja modal.

Saat ini Homeco Living mengelola berbagai merek seperti Technoplast, Scandic, Le Cuisine, Wiggle, One Price, KEI Living, Portofino, Homeco Ceramics, Moriihome hingga Technofun. Perseroan juga mendistribusikan sejumlah merek internasional seperti Berlinger Haus, Bergner, Berndes, San Ignacio, Metaltex, Masterpro dan Moneta.

Meski struktur keuangannya mulai membaik, tantangan utama perseroan tetap berada di sisi penjualan. Selama permintaan belum pulih, ruang untuk mengerek laba diperkirakan masih terbatas pada sisa tahun 2026.

Baca juga:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *