DEPOK24JAM- PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) membukukan pertumbuhan penjualan yang cukup kuat pada semester I 2026. Di tengah bisnis minyak dan gas yang terus berkembang, PT Pertamina Patra Niaga menjadi pelanggan terbesar ENRG, dengan kontribusi penjualan mencapai USD92,25 juta atau sekitar Rp1,65 triliun.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian interim per 30 Juni 2026, ENRG mencatat penjualan neto USD283,37 juta (sekitar Rp5,06 triliun). Angka ini tumbuh 18,5% dibandingkan USD239,11 juta (sekitar Rp4,27 triliun) pada semester I 2025. Konversi menggunakan kurs Rp17.856 per USD yang tercantum dalam laporan keuangan perseroan.
Yang menarik, pertumbuhan tersebut tidak hanya ditopang oleh kenaikan penjualan minyak dan gas, tetapi juga menunjukkan semakin besarnya kontribusi pelanggan domestik. Dari daftar pelanggan yang menyumbang lebih dari 10% penjualan neto, tiga nama utama pada semester I 2026 adalah Pertamina Patra Niaga, PT Perusahaan Listrik Negara (Persero), dan TIS Petroleum (Asia) Pte. Ltd.
Pertamina Patra Niaga Sumbang Rp1,65 Triliun
Pertamina Patra Niaga menjadi pelanggan terbesar ENRG dengan nilai penjualan USD92,25 juta (sekitar Rp1,65 triliun).
Nilai tersebut setara sekitar 32,6% dari total penjualan ENRG pada semester I 2026. Dengan kata lain, hampir sepertiga penjualan perseroan berasal dari pelanggan ini.
Di posisi kedua terdapat PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) dengan kontribusi USD67,41 juta (sekitar Rp1,20 triliun) atau sekitar 23,8% dari total penjualan.
Sementara itu, pelanggan luar negeri TIS Petroleum (Asia) Pte. Ltd. menyumbang USD43,19 juta (sekitar Rp771,16 miliar) atau sekitar 15,2%.
Jika ketiganya digabungkan, kontribusi penjualan mencapai USD202,85 juta (sekitar Rp3,62 triliun). Jumlah tersebut setara sekitar 71,6% dari total penjualan ENRG pada semester I 2026.
Struktur ini menunjukkan bahwa penjualan ENRG pada paruh pertama 2026 cukup terkonsentrasi pada sejumlah pelanggan besar.
Penjualan Gas Bumi Masih Terbesar
Dari sisi produk, gas bumi menjadi sumber penjualan terbesar ENRG.
Penjualan gas bumi mencapai USD163,36 juta (sekitar Rp2,92 triliun), naik dari USD143,52 juta (sekitar Rp2,56 triliun) pada semester I 2025.
Sementara itu, penjualan minyak mentah mencapai USD110,88 juta (sekitar Rp1,98 triliun), melonjak dari USD73,40 juta (sekitar Rp1,31 triliun) pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Dengan demikian, penjualan gas bumi dan minyak mentah secara bruto mencapai USD274,25 juta (sekitar Rp4,90 triliun). Setelah memperhitungkan underlifting, overlifting, dan domestic market obligation (DMO), nilainya menjadi USD269,73 juta (sekitar Rp4,82 triliun).
Selain bisnis minyak dan gas, ENRG memperoleh pendapatan dari infrastruktur minyak dan gas bumi sebesar USD13,64 juta (sekitar Rp243,56 miliar).
Pertamina Patra Niaga Juga Punya Kontrak Pembelian Minyak
Besarnya kontribusi Pertamina Patra Niaga bukan hanya tercermin dari penjualan semester I 2026.
Dalam catatan perjanjian penting, ENRG menyebut salah satu anak usahanya, EMP EG, pada 5 Juni 2026 menyepakati pembelian minyak mentah SLC dengan Pertamina Patra Niaga untuk periode 1 Mei hingga 31 Desember 2026.
Volume minyak mentah yang disepakati berada di kisaran 300.000 hingga 500.000 barel, dengan toleransi operasional plus atau minus 5%.
Anak usaha lainnya, ITA, juga memiliki kesepakatan dengan Pertamina Patra Niaga untuk pembelian minyak mentah Lalang Non-DMO. Perjanjian tersebut berlaku untuk periode 1 Mei hingga 31 Desember 2026 dengan volume 600.000 hingga 1,32 juta barel, juga dengan toleransi operasional plus atau minus 5%.
Artinya, posisi Pertamina Patra Niaga dalam bisnis ENRG bukan sekadar muncul sebagai pelanggan terbesar dalam laporan penjualan, tetapi juga terkait dengan sejumlah perjanjian penjualan minyak mentah yang berjalan pada 2026.
PLN Jadi Pelanggan Terbesar Kedua
Setelah Pertamina Patra Niaga, PLN menjadi pelanggan terbesar kedua ENRG.
Penjualan kepada PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) mencapai USD67,41 juta (sekitar Rp1,20 triliun). Berdasarkan rincian per segmen, penjualan kepada PLN terutama berasal dari wilayah kerja Sengkang sebesar USD34,94 juta, Kangean USD24,90 juta, serta Bentu USD7,02 juta.
Besarnya kontribusi PLN memperlihatkan peran bisnis gas ENRG dalam memasok kebutuhan energi domestik.
TIS Petroleum Jadi Pelanggan Utama dari Luar Negeri
Sementara itu, TIS Petroleum (Asia) Pte. Ltd. menjadi pelanggan utama ENRG dari luar negeri.
Penjualan kepada perusahaan tersebut mencapai USD43,19 juta (sekitar Rp771,16 miliar) pada semester I 2026. Berdasarkan rincian per segmen, kontribusinya berasal dari Malacca Strait sebesar USD32,32 juta dan Siak sebesar USD10,87 juta.
ENRG juga memiliki perjanjian jual beli minyak mentah SLC dengan TIS Petroleum untuk periode 1 Januari hingga 31 Desember 2026. Volume pengiriman yang diperkirakan dalam perjanjian tersebut mencapai 450.000 hingga 700.000 barel, dengan toleransi operasional plus atau minus 5%.
Pertumbuhan Penjualan Mengerek Laba ENRG
Kenaikan penjualan tersebut kemudian memberikan dampak positif terhadap profitabilitas.
ENRG mencatat laba bruto USD120,15 juta (sekitar Rp2,15 triliun), meningkat dari USD84,50 juta (sekitar Rp1,51 triliun) pada semester I 2025.
Laba usaha juga meningkat menjadi USD109,46 juta (sekitar Rp1,95 triliun) dari USD74,10 juta (sekitar Rp1,32 triliun).
Pada akhirnya, ENRG membukukan laba bersih USD45,22 juta (sekitar Rp807,45 miliar), naik 26,4% dibandingkan USD35,79 juta (sekitar Rp639,07 miliar) pada semester I 2025.
Dengan demikian, pertumbuhan penjualan ENRG pada semester I 2026 tidak hanya menunjukkan peningkatan volume bisnis minyak dan gas, tetapi juga memperlihatkan perubahan penting dalam struktur pelanggannya.
Pertamina Patra Niaga menjadi kontributor terbesar dengan sekitar 32,6% penjualan, disusul PLN sekitar 23,8% dan TIS Petroleum sekitar 15,2%. Tiga pelanggan tersebut secara bersama-sama menyumbang lebih dari 70% penjualan neto ENRG sepanjang enam bulan pertama 2026.
Sumber: Laporan Keuangan Konsolidasian Interim PT Energi Mega Persada Tbk dan Entitas Anak per 30 Juni 2026.

