DEPOK24JAM— Emiten batu bara dan energi PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (ADRO) mencatatkan kinerja moncer sepanjang paruh pertama 2026.
Perseroan yang sebelumnya dikenal sebagai Adaro Energy Indonesia ini membukukan laba bersih US$329,2 juta pada periode enam bulan yang berakhir 30 Juni 2026, melonjak 68,9% dibandingkan dengan raihan US$194,94 juta pada periode yang sama tahun lalu.
Mengacu laporan keuangan interim yang dipublikasikan, mesin utama pertumbuhan datang dari sisi pendapatan. Penjualan dan pendapatan usaha ADRO tercatat US$999,24 juta, naik 16,5% dari US$857,69 juta pada semester I/2025. Angka ini nyaris menyentuh level US$1 miliar dalam enam bulan.
Kenaikan pendapatan yang tidak diiringi lonjakan beban membuat profitabilitas ADRO menebal. Beban pokok penjualan dan pendapatan relatif stabil di US$576,56 juta, hanya naik tipis dari US$573,42 juta. Alhasil, laba bruto perseroan melesat 48,7% menjadi US$422,68 juta, dari sebelumnya US$284,27 juta.
Kinerja Operasional
Efisiensi juga terlihat di pos beban operasional. Beban umum dan administrasi turun menjadi US$54,58 juta dari US$57,68 juta, sementara beban penjualan naik tipis ke US$3,77 juta dari US$2,66 juta.
Kontribusi positif turut datang dari entitas ventura bersama yang dicatat dengan metode ekuitas. Pada semester I/2026, ADRO membukukan bagian laba US$33,55 juta dari lini ini, berbalik arah dari posisi rugi US$3,86 juta pada tahun sebelumnya. Perseroan juga mengantongi pendapatan lainnya sebesar US$40,42 juta yang tidak tercatat pada periode yang sama tahun lalu.
Beberapa pos menekan kinerja, meski tidak menggerus tren positif secara keseluruhan. Pendapatan keuangan menyusut 48,5% menjadi US$30,44 juta dari US$59,07 juta. ADRO juga mencatat kerugian selisih kurs mata uang asing US$10,53 juta, lebih dalam dibandingkan dengan kerugian US$7,19 juta pada semester I/2025.
Beban Bunga Melonjak
Salah satu catatan yang menonjol dari sisi pendanaan adalah beban bunga dan keuangan yang naik signifikan. Pos ini membengkak menjadi US$29,76 juta pada semester I/2026, atau melonjak sekitar tiga kali lipat dari US$9,71 juta pada periode yang sama tahun lalu. Kenaikan beban bunga ini mengindikasikan bertambahnya biaya pendanaan yang ditanggung perseroan sepanjang paruh pertama tahun ini.
Meski begitu, tekanan dari sisi beban keuangan tersebut tertutup oleh kuatnya kinerja inti. Laba sebelum pajak penghasilan ADRO tercatat US$415,99 juta, naik 67,2% dari US$248,83 juta. Setelah dikurangi beban pajak US$86,80 juta, laba dari operasi yang dilanjutkan sekaligus laba bersih perseroan menjadi US$329,2 juta.
Laba untuk Pemegang Saham
Dari total laba bersih tersebut, laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai US$309,37 juta, melesat 76,8% dari US$174,94 juta pada semester I/2025. Sementara itu, laba untuk kepentingan non-pengendali relatif stabil di US$19,83 juta.
Kinerja ini turut mengerek laba per saham dasar ADRO menjadi US$0,01074, naik dari US$0,00587 pada tahun sebelumnya.
Jika memperhitungkan pendapatan komprehensif lain, total laba rugi komprehensif perseroan tercatat US$367,07 juta, melonjak tajam dari US$44,67 juta pada semester I/2025. Lonjakan ini antara lain didorong oleh membaiknya sejumlah pos pendapatan komprehensif lain, termasuk penyesuaian yang tidak akan direklasifikasi ke laba rugi sebesar US$23,71 juta, berbalik dari posisi negatif US$129,95 juta pada tahun sebelumnya. Laba komprehensif yang dapat diatribusikan ke entitas induk pun naik menjadi US$334,34 juta dari US$27,29 juta.

