DEPOK24JAM— Emiten konstruksi pelat merah PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. (WIKA) berhasil memangkas kerugiannya sepanjang paruh pertama 2026, meski beban bunga yang besar dan posisi ekuitas yang tergerus masih menjadi pekerjaan rumah utama perseroan.
Mengacu laporan keuangan interim yang ditelaah secara terbatas, WIKA membukukan rugi bersih Rp1,55 triliun pada periode enam bulan yang berakhir 30 Juni 2026. Angka ini menyusut 9% dari rugi bersih Rp1,71 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Perbaikan yang lebih terasa terjadi pada rugi yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk, yang mengecil 10,9% menjadi Rp1,48 triliun, dari sebelumnya Rp1,66 triliun. Adapun rugi untuk kepentingan non-pengendali tercatat Rp71,29 miliar.
Pendapatan dan Margin Membaik
Dari sisi topline, WIKA mencatatkan penjualan dan pendapatan usaha Rp6,28 triliun, naik 7,2% dari Rp5,86 triliun pada semester I/2025.
Kabar yang lebih menggembirakan datang dari struktur biaya. Beban pokok penjualan dan pendapatan nyaris tidak bergerak di Rp5,39 triliun, hanya naik tipis 0,1%. Kombinasi pendapatan yang tumbuh dan beban pokok yang stabil membuat laba bruto WIKA melonjak 87,6% menjadi Rp886,33 miliar, dari sebelumnya Rp472,56 miliar. Perbaikan margin ini menjadi sinyal positif atas kualitas proyek yang dikerjakan perseroan.
Namun, tekanan datang dari beberapa pos. Beban umum dan administrasi naik 12,6% menjadi Rp573,48 miliar. Perseroan juga menanggung rugi dari entitas ventura bersama yang dicatat dengan metode ekuitas sebesar Rp378,36 miliar, melebar dari rugi Rp243,45 miliar tahun sebelumnya. Sementara itu, pendapatan lainnya turun tajam menjadi Rp161,60 miliar dari Rp891,37 miliar, seiring tidak berulangnya pos pendapatan besar yang tercatat pada tahun lalu.
Beban Bunga Masih Membebani
Sorotan utama dari sisi pendanaan tetap ada pada beban bunga dan keuangan yang tebal. Pos ini mencapai Rp1,31 triliun sepanjang semester I/2026, meski sudah turun 5,5% dari Rp1,39 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Besarnya beban bunga ini membuat WIKA membukukan rugi sebelum pajak Rp1,55 triliun. Setelah memperhitungkan beban pajak Rp6,55 miliar, kerugian dari operasi yang dilanjutkan sekaligus rugi bersih perseroan menjadi Rp1,55 triliun.
Struktur Utang dan Ekuitas
Berdasarkan laporan posisi keuangan per 30 Juni 2026, jumlah liabilitas WIKA tercatat Rp48,82 triliun, naik tipis 0,7% dari Rp48,46 triliun pada akhir Desember 2025. Beban utang perseroan masih didominasi oleh pinjaman bank jangka panjang senilai Rp20,38 triliun, diikuti utang obligasi jangka panjang Rp7,79 triliun dan sukuk jangka panjang Rp2,18 triliun.
Di sisi lain, jumlah aset WIKA menyusut 2,4% menjadi Rp48,95 triliun dari Rp50,15 triliun. Dengan liabilitas yang lebih tinggi dari aset pada level entitas induk, ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk berada di posisi negatif Rp2,37 triliun, memburuk dari posisi negatif Rp884,71 miliar pada akhir 2025.
Secara keseluruhan, jumlah ekuitas konsolidasian WIKA menipis menjadi Rp130,16 miliar, anjlok dari Rp1,69 triliun pada akhir tahun lalu. Kondisi ini menegaskan bahwa meski kinerja operasional dan margin mulai membaik, perbaikan struktur permodalan masih menjadi tantangan besar bagi perseroan ke depan.

