DEPOK– Seorang pengrajin batik asal Depok memperkenalkan batik bermotif Tionghoa.
Bukan tanpa alasan, karena dulunya Depok juga dikenal sebagai daerah perdagangan yang banyak didatangi saudagar Tiongha.
Nama wilayah Pondok Cina yang ada di Kecamatan Beji pun ada karena memang dulunya di sana menjadi tempat tinggal pedagang asal Tionghoa.
Untuk mengenang kembali sejarah itu, Ratna Septiana Wulandari ingin bercerita lewat karyanya.
Ia menghadirkan batik bernuansa Tionghoa dalam rangka peringatan Hari Batik 2026.
Ratna mengatakan, tema yang diangkat kali ini tidak sembarangan. Batik-batik karyanya diciptakan berdasarkan riset terlebih dahulu.
“Salah satu ciri dari Ratna Batik and Craft adalah riset,” katanya, Minggu (4/10/2026).
Melalui tema Batik Nuansa Tionghoa yang digelar di Santika Hotel Depok selama sebulan, Ratna ingin menghidupkan kembali nuansa kala itu melalui media kain.
Dia menegaskan, karya yang dihasilkan Ratna Batik & Craft adalah motif-motif dari kekayaan lokal Depok seperti Benggol yang ditemukan di Jalan Pemuda peninggalan tahun 1858. Kemudian Gong Si Bolong yang bentuknya unik karena walaupun bolong namun tetap bisa bunyi.
“Jadi, ketika motif-motif itu tercipta, tidak hanya sembarang sebuah gambar, tapi harus terutama sekali harus menceritakan sejarah berdirinya Depok,” ujarnya.
Saat ini kata Ratna sesuatu yang belum pernah diangkat di Depok adalah bahwa kebudayaan Tionghoa sangat erat dengan keberadaan negara Depok pada saat dulu ada berdiri.
Sehingga yang dijadikan momentum adalah Pondok Cina, di mana sejarahnya itu tadi yang seperti saya sampaikan, Pondok Cina itu adalah tempat tinggal orang-orang pedagang-pedagang Tionghoa yang berdagang di Depok.
“Itulah yang kita angkat. Jadi, segala sesuatu yang berkaitan dengan Tionghoa itu adalah yang utama selain makanannya, budayanya juga banyak di-adopsi untuk busana-busana muslim, nah itu kita angkat dari sisi itu,” ungkapnya.
Ratna mengaku Pemerintah Kota (Pemkot) Depok sangat membantu perkembangan batik lokal.
Bahkan dia dengan bebas bisa berkreasi nuansa Tionghoa yang beberapa tahun sebelumnya sangat sulit untuk dikembangkan.
“Alhamdulillah mendukung sekali. Kita selalu selain strategi dari bisnis juga, kita juga mengacu pada budaya, karena budaya tidak bisa hidup tanpa bisnis, dari situ kita ambil momentumnya untuk mengangkat budaya Tionghoa menjadi sesuatu keberagaman dari kekayaan Depok,” pungkasnya.

