Comeback atau Kontroversi? Malam ketika Argentina Bangkit dan Mesir Merasa Dirampok

DEPOK24JAMKemenangan Argentina atas Mesir ini punya dua wajah, tergantung siapa yang menonton.

Bagi fans Argentina, ini comeback heroik sang juara dunia yang bangkit dari ketertinggalan 0-2. Bagi fans Mesir, ini perampokan siang bolong yang dibantu VAR dan wasit.

Keduanya menonton pertandingan yang sama, tapi pulang membawa cerita yang berbeda.

Dan lucunya, dua-duanya tidak sepenuhnya salah.

Mari mulai dari fakta yang tidak bisa dibantah siapa pun.

Yasser Ibrahim membawa Mesir unggul lewat sundulan di menit ke-15, lalu Mostafa Shobeir menepis penalti Messi, penalti kedua yang gagal dieksekusi sang kapten di turnamen ini.

Zico menambah gol di menit ke-67 untuk membuat skor 2-0, sebelum Romero, Messi, dan Enzo Fernández membalikkan segalanya menjadi 3-2 lewat tiga gol dalam 13 menit, dengan gol penentu lahir di masa injury time.

Di atas kertas, ini malam heroik.

Di bawah kertas, ada banyak catatan kaki yang bikin Kairo mendidih.

Catatan kaki nomor satu: gol Zico yang dianulir saat Mesir unggul 1-0.

VAR menemukan pelanggaran Marwan Attia terhadap Lisandro Martínez di fase build-up, jauh sebelum gol tercipta.

Seberapa jauh?

Komentator FOX Rob Green menyebutnya sejauh satu lapangan penuh dan mempertanyakan apakah ini masih wilayah VAR.

Mantan wasit FIFA Mark Clattenburg lebih pedas lagi. Menurutnya itu bukan pelanggaran, tidak seharusnya ada intervensi VAR, dan jaraknya sekitar sepuluh detik dari insiden ke gol, terlalu panjang untuk dianulir.

VAR, teknologi yang katanya diciptakan untuk mengurangi kontroversi, kini menganulir gol dengan mikroskop dan teleskop sekaligus.

Luar biasa.

Sementara analis ESPN justru menilai intervensi itu benar karena Attia menarik kaus dan menginjak kaki Martínez bersamaan saat Argentina sedang menyerang.

Dua pakar, dua planet.

Catatan kaki nomor dua: gol kemenangan Enzo.

Mesir mengklaim ada pelanggaran Mac Allister dalam build-up gol injury time itu, plus penalti yang tidak diberikan untuk mereka di fase yang sama.

VAR memeriksa dan menyatakan aman.

Tentu saja aman.

Di turnamen ini, segala hal yang menguntungkan Argentina selalu aman.

Lalu datanglah bagian terbaik: konferensi pers Hossam Hassan.

Pelatih Mesir ini menolak basa-basi. Dia menyatakan timnya diperlakukan tidak adil, menyebut hasil dipengaruhi faktor eksternal di luar lapangan, dan melempar teori bahwa FIFA ingin Messi tetap bertahan di turnamen.

Dia bahkan mengonfrontasi wasit Letexier usai laga dan menuduhnya menyembunyikan sesuatu, sampai kena kartu kuning karena protes dan harus ditenangkan Salah yang mencoba jadi penengah.

Salah sendiri kemudian masuk ruang ganti, mengumpulkan pemain, dan berkata, “Hard luck, ini takdir Tuhan.”

Kapten yang satu marah pada wasit.

Kapten yang lain pasrah pada langit.

Sekarang, mari jujur sebentar.

Teori konspirasi “FIFA butuh Messi” memang renyah, apalagi disajikan seminggu setelah FIFA membekukan kartu merah Balogun gara-gara telepon dari Gedung Putih.

Kredibilitas badan ini sedang diobral, jadi wajar semua orang curiga.

Tapi ada satu masalah kecil dengan narasi Mesir.

Argentina unggul penguasaan bola 57 persen dan melepaskan 19 tembakan berbanding 5.

Tim yang katanya “lebih baik dalam segalanya” itu nyaris tidak menyentuh bola di 15 menit terakhir.

VAR mungkin membantu, tapi VAR tidak menyundul bola untuk Romero, tidak melepaskan tembakan first-time Messi, dan tidak menempatkan kepala Enzo di ujung umpan Lautaro.

Itulah bedanya juara dunia dengan tim bagus.

Tim bagus bermain 79 menit sempurna.

Juara dunia cukup butuh 13 menit dan sedikit keberuntungan administratif.

Mesir pulang membawa rasa bangga, rasa ditipu, dan satu pelajaran pahit: melawan Argentina, unggul 2-0 itu bukan keunggulan, itu undangan.

Argentina melaju ke perempat final melawan Swiss.

Messi menangis, Atlanta bergemuruh, Kairo menggugat.

Dan VAR?

VAR tersenyum di ruang gelapnya, menunggu korban berikutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *