DEPOK24JAM- Kalau kamu suka nonton podcast atau talkshow politik, kemungkinan besar pernah dengar Rocky Gerung ngomong “radical break”. Kedengarannya keren, agak seram, dan bikin bingung sekaligus. Apa itu semacam ajakan berontak? Atau cuma istilah kampus yang dipakai biar kelihatan pintar?
Jawabannya: bukan dua-duanya. Radical break itu konsep yang sebenarnya sederhana, dan justru dekat banget sama kehidupan kita sehari-hari. Esai ini mau ngajak kamu ngobrol santai soal apa maksudnya, dari mana asalnya, dan kenapa warga biasa juga perlu paham.
Radikal Itu Akar, Break Itu Patahan
Kita bedah dulu katanya. “Radikal” berasal dari bahasa Latin radix, artinya akar. Jadi berpikir radikal artinya berpikir sampai ke akar masalah, bukan cuma ngurusin daun dan rantingnya. “Break” artinya patahan atau putus.
Digabung, radical break kurang lebih berarti: memutus sesuatu sampai ke akarnya. Bukan sekadar ganti cat, tapi ganti fondasi. Bukan tambal sulam, tapi berani bilang “cara lama ini sudah nggak bisa dipakai, kita mulai dari cara berpikir yang baru.”
Istilah ini bukan karangan Rocky. Dalam filsafat ilmu, Gaston Bachelard memperkenalkan ide “patahan epistemologis”: ilmu pengetahuan maju bukan dengan nambah-nambahin pengetahuan lama, tapi dengan memutus cara pandang lama. Thomas Kuhn kemudian menyebutnya pergeseran paradigma. Contoh klasiknya: manusia dulu yakin matahari mengelilingi bumi. Untuk sampai ke pemahaman sebaliknya, nggak cukup cuma revisi sedikit. Seluruh cara melihat alam semesta harus diputus dan diganti.
Bukan Radikalisme
Di Indonesia, kata “radikal” sudah telanjur identik dengan kekerasan dan terorisme. Padahal itu dua hal berbeda. Radikalisme dalam arti kekerasan adalah memaksakan kehendak dengan cara merusak. Berpikir radikal adalah keberanian menggali sampai akar dengan akal.
Rocky sendiri pernah menyinggung ini di ruang sidang tahun 2022. Menurutnya, istilah radikal yang dijadikan bahan headline itu berbahaya, karena bikin orang takut berpikir habis-habisan. Ia juga cerita bahwa di kelas ia selalu mendorong mahasiswanya berpikir radikal soal manusia, Tuhan, dan hukum.
Jadi kalau dengar “radical break”, bayangkan ini: dokter yang nggak cuma kasih obat penurun panas, tapi mencari tahu infeksinya dari mana. Itu radikal. Bukan bom, bukan kerusuhan.
Kenapa Rocky Sering Pakai Istilah Ini
Rocky dikenal sebagai filsuf dan pengamat yang sering mengkritik kekuasaan. Saat ia bicara radical break dalam konteks politik, intinya biasanya begini: masalah bangsa nggak akan beres kalau yang diganti cuma orangnya, sementara cara berpikir, kebiasaan, dan sistemnya tetap sama.
Ganti pemimpin tapi pola lamanya dipertahankan, itu kontinuitas, bukan patahan. Bikin program baru tapi logikanya masih sama, itu kosmetik. Radical break menuntut keberanian untuk mempertanyakan fondasinya: kenapa kita berpolitik dengan cara ini, kenapa kritik dianggap ancaman, kenapa warga cuma dihitung saat pemilu.
Bagi Rocky, alat utama untuk melakukan patahan itu adalah akal sehat warga. Bukan revolusi fisik, tapi revolusi cara berpikir.
Radical Break dalam Hidup Sehari-hari
Konsep ini sebenarnya nggak cuma milik politisi atau filsuf. Kita semua pernah, atau perlu, melakukannya.
Ambil contoh jalanan macet di depan sekolah tiap pagi. Solusi tambal sulam: tambah satu petugas parkir. Solusi radical break: tanya kenapa semua orang harus antar anak pakai mobil pribadi, lalu pikirkan antar-jemput bersama atau jalur sepeda yang aman.
Contoh lain, soal informasi. Kebiasaan lama: percaya pesan berantai di grup WhatsApp karena dikirim orang yang kita kenal. Patahannya: membiasakan diri bertanya “sumbernya dari mana?” sebelum ikut menyebarkan. Kedengarannya kecil, tapi ini mengubah fondasi cara kita menerima informasi.
Di level pribadi pun sama. Orang yang mau sehat nggak cukup beli sepatu lari baru. Yang perlu diputus adalah pola pikir “nanti saja, besok mulai”.
Tapi, Hati-hati Juga
Supaya adil, ada juga pandangan yang mengingatkan soal batas konsep ini. Pertama, nggak semua hal perlu diputus. Banyak perubahan baik justru lahir dari perbaikan bertahap, dan tradisi atau sistem lama kadang menyimpan kearifan yang mahal kalau dibuang begitu saja.
Kedua, istilah keren bisa jadi slogan kosong. Gampang bilang “kita butuh radical break”, tapi lebih sulit menjelaskan patahannya di mana dan penggantinya apa. Pengkritik Rocky juga sering menilai gaya bicaranya terlalu keras dan lebih menyerang orang daripada menawarkan jalan keluar.
Jadi sikap warga yang sehat bukan menelan istilah ini mentah-mentah, tapi menguji: patahan apa yang diusulkan, siapa yang menanggung risikonya, dan apa rencana penggantinya. Ironisnya, menguji seperti itu adalah bentuk berpikir radikal juga.
Berani Bertanya Sampai Akar
Radical break pada dasarnya adalah undangan untuk berhenti puas dengan jawaban permukaan. Setuju atau tidak dengan Rocky Gerung, pesan di balik istilahnya layak kita bawa pulang: warga yang berani bertanya sampai ke akar adalah warga yang susah dibohongi.
Mulainya nggak perlu besar. Cukup dari satu kebiasaan: setiap kali ada masalah, tanyakan “kenapa” sekali lagi, lalu sekali lagi. Siapa tahu di situ patahan pertamamu dimulai.

