DEPOK24JAM – PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) harus menelan pil pahit pada semester I 2026. Setelah membukukan laba besar pada periode yang sama tahun lalu, pengembang kawasan industri ini berbalik mencatat rugi bersih akibat anjloknya laba sebelum pajak yang dipicu lonjakan beban lain-lain.
Jababeka merupakan salah satu pengembang kawasan industri terbesar di Indonesia yang berdiri sejak 1989. Perseroan mengembangkan kawasan industri terpadu Jababeka di Cikarang serta memiliki portofolio bisnis yang mencakup pengembangan kawasan industri, residensial, infrastruktur, pembangkit listrik, dry port, utilitas, hingga kawasan pariwisata Tanjung Lesung dan Kawasan Industri Kendal.
Perusahaan juga mengelola berbagai fasilitas pendukung seperti penyediaan air bersih, pengolahan limbah, telekomunikasi, hingga energi untuk kawasan industrinya.
Pendapatan Turun, Beban Lain-lain Melonjak
Berdasarkan laporan keuangan per 30 Juni 2026, pendapatan dan pendapatan jasa Jababeka tercatat sebesar Rp2,44 triliun, turun sekitar 10,6% dibandingkan Rp2,73 triliun pada semester I 2025. Penurunan tersebut turut menekan laba bruto menjadi Rp840,47 miliar dari Rp1,12 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Di sisi operasional, beban penjualan meningkat menjadi Rp45,46 miliar dari Rp32,66 miliar, sementara beban umum dan administrasi naik menjadi Rp270,34 miliar dari Rp250,40 miliar. Meski beban keuangan sedikit turun menjadi Rp188,71 miliar, tekanan terbesar justru berasal dari beban lain-lain bersih yang melonjak drastis menjadi Rp354,40 miliar, dibandingkan hanya Rp4,03 miliar pada semester I 2025.
Lonjakan beban tersebut membuat laba sebelum pajak anjlok menjadi Rp40,93 miliar dari Rp679,46 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Setelah memperhitungkan beban pajak, Jababeka membukukan rugi bersih sebesar Rp6,44 miliar. Lebih dalam lagi, rugi yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp177,88 miliar, berbalik dari laba Rp310,65 miliar pada semester I 2025.
Kas Masih Tebal, Utang Bank Meningkat
Meski mencatat rugi, kondisi likuiditas Jababeka masih relatif kuat. Perseroan memiliki kas dan setara kas sebesar Rp3,21 triliun per akhir Juni 2026, meski turun dari Rp3,62 triliun pada akhir 2025.
Di sisi lain, total pinjaman bank jangka panjang meningkat menjadi sekitar Rp4,81 triliun dari Rp1,51 triliun pada akhir 2025. Pada Juni 2026, perusahaan juga telah melunasi seluruh Guaranteed Senior Secured Notes yang jatuh tempo pada 2027, sehingga mencatat beban amortisasi dipercepat atas pelunasan obligasi tersebut.
Kontributor terbesar pendapatan Jababeka masih berasal dari segmen real estat sebesar Rp981,96 miliar, disusul pembangkit tenaga listrik Rp925,58 miliar dan jasa pemeliharaan Rp498,60 miliar. Hal ini menunjukkan bahwa bisnis perseroan semakin terdiversifikasi dan tidak lagi hanya bergantung pada penjualan lahan industri.
Walaupun fundamental aset dan portofolio bisnis Jababeka masih besar, penurunan pendapatan serta lonjakan beban non-operasional menjadi tantangan utama pada semester I 2026. Perseroan perlu memulihkan profitabilitas pada paruh kedua tahun ini agar dapat kembali mencetak laba setelah membukukan rugi bersih pada enam bulan pertama.
Baca juga:
- Pollux Hotels Masih Bertahan di Tengah Lesunya Properti, Laba Semester I 2026 Turun 32%
- Homeco Victoria Makmur Kehilangan Momentum, Penjualan Ambruk 42% dan Laba Bersih Terpangkas 88%

