DEPOK24JAM – PT Pollux Hotels Group Tbk (POLL) masih membukukan laba pada semester I 2026. Namun, perlambatan penjualan serta lonjakan beban operasional membuat keuntungan pengembang properti ini menyusut sekitar sepertiga dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Di balik kinerja tersebut, Pollux tetap menjadi salah satu pengembang properti yang menggarap proyek berskala besar di Indonesia. Grup ini mengembangkan proyek mixed-use yang menggabungkan apartemen, hotel, pusat perbelanjaan hingga kawasan komersial di berbagai kota, termasuk Batam, Semarang dan Karawang.
Perseroan juga dikenal melalui sejumlah proyek seperti Meisterstadt Batam, Chadstone Cikarang, Pollux Mall Paragon Semarang, Pollux Technopolis Karawang hingga Pollux Habibie International Hospital.
Beban Operasional Melonjak, Laba Bersih Menyusut
Berdasarkan laporan keuangan per 30 Juni 2026, Pollux membukukan penjualan dan pendapatan usaha sebesar Rp38,76 miliar, turun 5,3% dibandingkan Rp40,93 miliar pada semester I 2025. Meski demikian, laba bruto justru meningkat menjadi Rp28,41 miliar dari Rp18,90 miliar karena beban pokok penjualan turun lebih dari 50%.
Namun, perbaikan margin tersebut tidak mampu mengangkat laba perusahaan. Beban umum dan administrasi melonjak drastis menjadi Rp20,72 miliar dari hanya Rp5,45 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Kenaikan beban operasional ini menjadi faktor utama yang menggerus profitabilitas perseroan.
Di sisi lain, Pollux masih memperoleh kontribusi signifikan dari entitas asosiasi sebesar Rp14,37 miliar, naik dari Rp13,33 miliar pada semester I 2025. Beban lainnya juga berhasil ditekan menjadi Rp13,35 miliar dari Rp16,28 miliar. Meski demikian, laba sebelum pajak tetap turun menjadi Rp8,88 miliar dari Rp10,81 miliar.
Alhasil, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat Rp6,92 miliar, turun sekitar 32% dibandingkan Rp10,18 miliar pada semester I tahun lalu. Laba per saham dasar juga menurun menjadi Rp0,83 dari Rp1,22.
Neraca Tetap Solid, Utang dan Ekuitas Stabil
Di tengah penurunan laba, kondisi keuangan Pollux relatif stabil. Total aset perseroan meningkat menjadi Rp2,52 triliun per akhir Juni 2026 dari Rp2,50 triliun pada akhir 2025. Liabilitas naik tipis menjadi Rp605,94 miliar dari Rp593,52 miliar, sementara total ekuitas bertambah menjadi Rp1,92 triliun dari Rp1,91 triliun.
Arus kas operasional juga masih mencatatkan angka positif. Kas bersih dari aktivitas operasi naik menjadi Rp1,49 miliar dibandingkan Rp1,22 miliar pada semester I 2025. Sementara saldo kas dan setara kas pada akhir Juni 2026 mencapai Rp13,75 miliar.
Secara bisnis, Pollux terus memposisikan diri sebagai pengembang properti terpadu yang mengusung konsep live, work and play melalui pembangunan kawasan mixed-use. Perseroan memiliki portofolio proyek yang mencakup apartemen, hotel, pusat perbelanjaan, rumah sakit hingga kawasan komersial yang tersebar di sejumlah kota besar di Indonesia.
Meski fondasi neraca masih cukup kuat, tantangan Pollux saat ini berada pada kemampuan meningkatkan penjualan sekaligus mengendalikan beban operasional. Tanpa perbaikan di dua pos tersebut, ruang pertumbuhan laba diperkirakan akan tetap terbatas pada sisa tahun 2026.
Baca juga:

